Minggu, 26 Desember 2010
Negara Bobrok
Apa yang suporter Malaysia perbuat?
Mereka: menggunakan laser berwarna hijau yang dengan sengaja diarahkan ke muka-muka pemain timnas Indonesia, dengan tujuan merusak konsentrasi. Hebatnya, dengan ciri khas Bangsa Indonesia yang suka panik, timnas kita terkecoh.
Mereka: berani menyalakan petasan dan bahkan melemparnya ke tengah lapangan. Negara macam apa ini? Bukan, tepatnya orang-orang macam apa mereka? Bodoh, dan berpikiran sempit. Mereka tidak pernah berpikir dan merasa malu melakukan perbuatan yang mencoreng nama baik nasional mereka. Kasihan, timnas Malaysia, usaha keras mereka telah tercoreng. Cihh.
Akhirnya pada menit-menit awal babak kedua Indonesia protes dengan laser-laser yang terus menyerang mereka. Dan pada saat itu pula lah petasan menyala di tengah lapangan, sungguh hal memalukan di kancah internasional. Saya saja yang sebagai warga negara Indonesia malu melihatnya. Ckck. Saya berdoa semoga nanti kalo di Indonesia tidak akan ada yang melempar tabung elpiji hijau 3 kg. Hahahaha.
Singkat cerita, Indonesia akhirnya kebobolan 3-0. Pemain Indonesia nampak kewalahan, panik, dan tidak konsen. Seandainya saya sebagai pendukung Malaysia - yang menggunakan teknik-teknik pecundang itu - saya tidak akan bangga dengan kemenangan 3-0 ini. Why? U know.
Jumat, 24 Desember 2010
NAMA GUE PERGI DULU YA…
Cowo itu tampannya engga ketulungan. O my God!
Mataku yang bundar masih jelalatan mengamatinya. Dia duduk seorang diri di sudut ruangan. Cowo dengan setelan seperti itulah tipeku. Rambut ikal acak, wajah unik, kulit kecokelatan, dan tampan! Hah, ini namanya takdir yang harus diraih atau kesempatan yang harus dilewatkan. Otaku menimbang-nimbang untuk menghampirinya atau meninggalkannya begitu saja.
Sebelum otaku mampu memutuskan, kakiku sudah melangkah terlebih dulu.
“Hai, gue Dea. Nama elo siapa?” hah, apaan nih yang aku lakukan? Menyodorkan tangan untuk dijabat? Keterlaluan kamu, Dea!
“Gue?” tanya cowo itu sambil menuding dirinya sendiri. Matanya mengerjap seakan tak percaya.
“Iya, elo.” Sahutku mantap. Hilang semua rasa grogiku. Buset, memang tampannya!
“Gue?” cowo itu bertanya lagi sembari berdiri dari duduknya, “Gue? nama gue… pergi dulu ya…” dan cowo itu ngeluyur pergi begitu saja. Hah, apaan nih?
Belum sempat rasa terkejutku hilang, mulutku melongo menatap cowo itu yang berlalu dengan seorang cowo tampan lainnya. Mereka berpelukan mesra. O My Ghost! Beribu-ribu kesialan, umpatku.
(156 words/18:51/150410)
Kamis, 23 Desember 2010
BIAR GUE MATI JUGA!
Eliza menjatuhkan tubuh mungilnya di sofa depan televisi. Ia meraih remote kecil berwarna putih, mengarahkannya pada AC yang bertengger di dinding belakangnya. Bip, dan AC menyala. Kepalanya pusing, bukan hanya karena cuaca yang semakin panas, tapi kepalanya memang sudah lama terpanggang hingga terasa pusing.
“Tulililiiit…” dengan malas ia merogoh-rogoh tas tangannya.
“Halo,” serunya pada ponsel hitam yang telah usang, “Nella?”
“Hai, Za.” Jawab suara dari seberang sana, “mau curhat.”
“Oh, oke.” Sahut Eliza sambil menyalakan televisi.
“Gue putus.” Terdengar suara putus asa dari ponsel Eliza.
“Kenapa?” tanya Eliza tercekat.
“Ode selingkuh.” Eliza semakin tercekat.
“Bagaimana elo tahu, Nel?” suaranya terdengar bergetar.
“Gue tahu aja. Dan elo tahu engga, gue hamil. Anak Ode.” Mata Eliza membundar dengan mulut menganga. Tangannya bergetar hebat.
“Nel, elo lagi engga becanda kan?” keringat dingin mulai membanjiri pelipisnya.
“Engga, za,” jawab Nella cepat, “dan gue mau mengakhiri ini semua.” Dengan tangan yang masih bergetar, Eliza mengganti saluran televisi. Sebuah berita. Heboh. Seorang perempuan muda melakukan percobaan bunuh diri dari atap gedung berlantai tiga belas. Itu tagline nya.
“Nel, maksud elo? Jangan main-main Nella.” Seru Eliza, kebingungan.
“Gue udah engga ada gunanya hidup. Bye, Liza.” Terdengar bunyi tuuut dari seberang sana, berbarengan dengan jeritan heboh dari siaran berita di dalam televisi.
Eliza tercengang. Ponsel di tangannya terjatuh. Duduknya merosot. Keringat dingin membanjir di seluruh tubuh. Airmata menetes di sudut matanya.
Perempuan muda yang jatuh dari gedung itu, Nella, sahabatnya yang baru saja meneleponnya. Kepala Eliza serasa semakin pusing.
“Eliza!” terdengar seseorang memasuki ruangan itu, “Sayang…, apa? Hei, ada apa?” seorang lelaki menghampirinya.
“Nella…,” dengan setengah mendekap mulutnya, Eliza mencoba menerangkan, kata-katanya terbata-bata, “Ode.., gue salah…. Salah. Kita berdua udah salah….” Eliza tak hentinya mengerjapkan mata, menahan tangis, tapi kepalanya semakin pusing, biar gue mati juga! (292 words. 14/04/2010)
Rabu, 22 Desember 2010
Loving You
Today is my important day. I will get the exam. I wake up, almost jump to the stairs. Umma is cooking in the kitchen, I can smell the coffee. Appa may be still sleep, he was late coming home last night. And I'm not sure 'bout my sister. And my big bro? ahh, probably he is jogging right now. And my twins? ah, forget him. He could stay out all night, like a cat. Jeongmal~
8.00 a.m.
Huh? I'll be late. I take a bath as soon as possible. I can hear my brother, Jae Wook oppa comes back from jogging. He talks to my mom, and I love his voice. Hahaha. I remember when I was class five, I ask him to go on a date. He was too cool at that time, and still the same now.
"Sang Sun ahh~~ have you done? oppa wants to get shower too." Oppa knocks the door, make me jump for a while.
"Ne, oppa. Wait." I wear my clothes immediately, and open the door, grin to the most handsome oppa ever, "you can use it my groom."
"Hahaha, gomawo, my bride." he used to kiss my cheek, and well he does it! I can smile widely everyday because my handsome groom oppa, hahaha.
"Jae Wook, andwe~ what are you doing to your sista?" suddenly umma comes, "You shouldn't kiss her like that. You two look like a couple. Aigooo~"
"Umma, don't think like that. We always do such thing since childhood. Don't be ridiculous." and I always happy listen it from him every morning. Kekekek. I do love my own brother.
"Araseo, palli~~ shower. You, Sang Sun, call your twins brother, Yong Hwa. He might be drunk last night. Aish, that child never change." Umma back to the kitchen.
Aigooo~ my twin, the Jung twins, we are. Jashikk, it's annyoing, see my twin bro lays on the floor with his unconscious condition. His hobby is drinking til drunk. His ability is messing around. The only thing he can do very well is playing guitar and singing. That's it. No more.
I poke his cheek. "Hmmmm..." I poke his cheek again. "Hmmm... nande?" And you should know, he will speak in Japan when he is really drunk. He is the drunker master. Jashikk~
"Whatever, I don't care with you, another Jung." I left him, still lays on the floor. Jinjja~~
"Where is your twin bro?" appa sits in front of television, watching the morning news.
"Sleep. Drunk." I answer it while drinking my juice.
"Again?" appa look not interested. "Let him sleep then."
"Ne, appa." I eat my french toast, "ah, oppa, can you lend me your fortunate pencil?" I ask Jae Wook oppa. I want to use his fortunate pencil to do my exam.
"Ne~ igo..." he lends me the pencil, choa. Oppa, nae ga saranghae yo!
At school. 09.00 a.m.
I am waiting for my fellows. Aigoo~ they should come earlier for the exam day. Ahh, I know they must be busy dating. Cihh, jeongmal~ I can't stand it anymore.
"Sunnie ahh~" Bee appears in the top of the alley. I'll wave my hands when I see him, Jinki, his boyfriend. Omo~ they are together, make me going mad.
"Ahh, Bee. Annyeong, Jinki!" I bow but almost invisible. "Where are the other?" I ask her.
"They probably arrive soon." says Bee, coupled with Jinki. Hash, jeongmal~
"Let's walk first." I walk in the front of them. I hate being alone. I don't have a boyfriend. Aigoo~
"Sunnie ahh~ watch out..." I can hear Bee warned me.
"Bang!" I hit something, or someone?
"Hyaaaa.... where is your eyes?" A man voice.
"Mianhamnida. Mian." I bow, bow, and bow. I'm afraid to look to the boy.
"Hyaaaa, Jung Sang Sun?" He knows me?
"Ne~ nugu...," I look straight on his face, "seyo?" It seems I know him, but I can't recognize him.
"Don't you remember me?" he asks.
"Hmm... chingu?" I ask.
"Ne, hya, Sunnie ahh~ Doo Joon. Yoon Doo Joon. Remember?"
"Doo Joon?" It seems this name is familiar, "Doo Joonie? The narrow minded? Hyaa??" I hug him.
*background* Bee and Jinki are open-mouthed. *CUT*
Cast.
Jung Sang Sun as himself
Jung Yong Hwa as himself, the Jung twin
Kim Jae Wook as Jung Jae Wook, the big bro
Bee as herself, Sang Sun's friend
Jinki as himself, Bee's boyfriend
Umma-Appa as themselves
Yoon Doo Joon as himself, Sang Sun's friend
Note: this story is fiction.
Sabtu, 24 Oktober 2009
Taman Cinta
Namun, di luar itu semua banyak hal yang lebih menarik. Misalnya, tentang kami. Sekawanan anak manusia yang masih terbius jalanan kehidupan yang belum mampu melihat muaranya. Aku, cewe yang naif, penuh kepalsuan, dan pretender. Dia, cewe yang satunya lagi, dewasa, mengerti, dan tegar. Mereka, dua orang cowo. Si penyiar yang teguh, mencari, dan cerdas. Si anggota paduan suara, rapuh, halus, tetapi penuh drama.
Kami biasa berkumpul di sebuah taman yang diabaikan di kampus kami. Sebut saja, taman cinta. Kami, dua orang cewe dan seorang cowo lagi -si anggota paduan suara- adalah mahasiswa Sastra Inggris. Sedangkan, cowo satunya, si penyiar adalah mahasiswa Sastra China. Tempat favorit kami adalah di bangku bundar pojokan taman sebelah kanan, di bawah pepohonan rindang, pandangan kami bisa menyapu jalanan, dan ekor bulevard kampus.
Ketika kuliah usai, kaki kami melangkah ke sana, menghabiskan waktu di sana. Makan, mengobrol, bercanda, dan bertukar pikiran. Bahkan mengolok-olok. Banyak yang kami obrolkan. Persahabatan, keyakinan, kepercayaan, prinsip, dan bahkan hal-hal tentang takhayul.
Kadang-kadang kami berkata dengan bahasa campur aduk. Ada yang pake china, korea, inggris, indonesia, dan bahkan jepang. Haha. Aku merasa utuh ketika bersama mereka, meski kadang aku seperti terasing di antara obrolan-obrolan mereka.
Kami membaca buku yang sama bergilir. Kami saling membagi info. Kami saling bertukar lagu favorit.
Memang yang menarik dari kuliah adalah kami dan taman cinta!
Selasa, 06 Oktober 2009
Just Tell You Mine!
Emm.. Help me yeeee, I want to improve my writing skill by write it in English. I get some trouble with my writing skill. It's seemed too difficult so that I try hard to learn it later on. Emm, well, as an English Literature student I have a great responsibility to know well about English. My friends and I have been studying Introduction to English Literature, Linguistic, Fonologi, and many more bloody lessons that looked so hard to learn. We study about ancient period of English Literature, and I don't know well about it. Hah, I'm going to be mad guys!
Ok, on this occasion, I want to tell you about something unique in one of my lessons. We call this lesson, Linguistic. I had gotten a task from my lecturer that there are some matter and we should solve it. The unique one is "I eat ago, new go to school.", what happen with this condition? In Linguistic, we call it Interference. A person studying English but his own local area language still influence him. The other examples are "My body is not delicious", "Let's talking-talking", and "Good-good only".
Damn, I'm interested on it. It's so unique. But the most interesting purpose go to campus is meeting many handsome guys! Hahahaha. Bitchy-bitchy only! Oh My Dog! ^^
Sabtu, 29 Agustus 2009
Ulat Jelek Menjadi Kupu-Kupu
Ini ada hubungannya dengan menjelajah sih. Hehe. Menjelajah kota lain demi masa depan. Bisa disebut merantau. Well, aku ini hidup di tengah saudara-saudara perempuan dengan jarak lahir satu tahun. Jadi kalau aku naik kelas, bukuku aku kasih ke saudaraku yang setahun dibawahku, terus kalau dia naik kelas, tuh buku diwariskan ke adikku, begitu terus, sampai nyampe ke adik sepupuku yang paling kecil, sekarang dia SMA kelas 2. Nah, tahun lalu akhirnya aku kuliah. Meninggalkan warisan buku. Hehe. Tapi aku baru sadar, pagi ini saudaraku yang tahun lalu aku warisi buku berangkat merantau. Dia sudah kuliah. Cepatnya waktu berputar. Setahun lalu aku berjalan lebih jauh meninggalkan mereka. Sekarang dia pun menyusulku meraih cita.
Dulu, kami berempat, Aku, Nindi, Rahma [adik kandungku], dan Ifud selalu bersama-sama. Jalan-jalan di sawah, sungai, hehe, pas lagi nakal-nakalnya. Sekarang ternyata kami sudah mulai bertransformasi membentuk pribadi masing-masing.
"Memang kita selalu bersama tapi kehidupan dan masa depan tidak bisa dibentuk bersama terus menerus"Perlu perjuangan dan pengharapan yang besar demi menjadi kita yang sebenarnya.
Well, besok pun aku akan berangkat ke Solo, kota di mana aku memutuskan meneruskan belajar di Perguruan Tinggi. Rumah akan benar-benar sepi. Aku ke Solo, Nindi ke Jombang, Rahma ke Madiun, dan Ifud masih ngendon ajah, kan tuh anak masih anak mami. Hehehe.
Aku harus semangat berjuang seperti apa yang mereka juga lakukan. Tak sabar melihat ulat buruk rupa ini berubah menjadi kupu yang cantik jelita. Bismillah! Ganbatte kudasai!
