Minggu, 12 Juni 2011

two and two..

Diposting oleh ANALOLIPOPPOP di 10.40 0 komentar
am an adult already...
adult...
now...
am...

when I was one-and-twenty [A.E. Housman]

Diposting oleh ANALOLIPOPPOP di 09.19 0 komentar
Sangeil Chukae, Na...
32 minutes going...

When I was one-and-twenty
I heard a wise man say,
'Give crowns and pounds and guineas
But not your heart away;
Give pearls away and rubies
But keep your fancy free.'
But I was one-and-twenty,
No use talk to me.

When I was one-and-twenty
I heard him say again,
'The heart out of the bosom
Was never given in vain;
'Tis paid with sighs a plennty
And sold for endless rue.'
And I am two-and-twenty.
And oh, 'tis true, 'tis true.

THIS DESTINY

Diposting oleh ANALOLIPOPPOP di 08.21 0 komentar
[PART 1] EUNJUNG’S

[Inspired by ‘Will It Snow for Christmas’ K-drama]

Cast:

Ham Eun Jung

Kim Soo Hyun

Seo Jung Hyun

Yong Jae Son

“Hyaa… ahjumma, apa yang kalian lakukan?” aku mengayuh sepedaku secepat mungkin melihat banner untuk menyambut kepulangan oppa dipotong. Seorang ahjumma dan anak laki-laki gendut seumuranku memotongnya di depan sebuah truk yang mengangkut perabotan rumah. Mungkinkah mereka tetangga baru?

Mereka hanya melirikku sekilas lalu kembali memotong banner yang dibuat oleh eomma-appa untuk menyambut kepulangan oppa yang bersekolah di Seoul University. Anak laki-laki gendut itu menggendong ahjumma di pundaknya, dan ahjumma terus memotong banner itu tanpa mempedulikanku.

“Hyaaaaaaaa…. Apa yang kalian lakukan! Hyaaaa… mietcheosseoo!” aku terus mengayuh sepedaku semakin keras tapi sebelum aku menyadari di depanku ada seekor bebek melintas di jalan aku sudah menabraknya dan jatuh tersungkur di tanah.

“Neo gwenchana?” seseorang mengulurkan tangannya untuk menolongku. Seorang oppa.

“Gwenchanayo.” Kataku sambil berdiri dan membersihkan seragam sekolahku yang kotor terkena lumpur. “Mereka keterlaluan. Mereka orang jahat! Jahat! Jahat!” seruku berkali-kali mengulang kata-kata ‘jahat’.

“Hyung, eomma minta kamu segera naik ke truk. Kita sudah bisa lewat sekarang!” si anak laki-laki gendut itu menghampiri oppa ini. Oppa meliriknya, “Aku nanti menyusul.” Serunya.

“Oh, jadi kamu juga bagian dari mereka? Orang jahat! Jahat! Jahat!” teriakku lagi berkali-kali.

“Apakah kamu tidak punya kosa kata lain selain jahat?” tanyanya sambil mengurus sepedaku yang terjatuh. “Kamu tidak belajar hangul di sekolah? Kamu tidak mendengarkan?” tanyanya lagi.

“Ah, nan molla…” seruku sambil berjalan meraih sepedaku. “Ackk.., ” ternyata kakiku sakit dipakai berjalan. Oppa berlutut di depanku, punggungnya membelakangiku. “Naik ke punggungku. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit.”

“Sudahlah. Aku tidak perlu. Gwenchana.” Kataku sambil berlalu mengayuh sepedaku. Siapa peduli dengan orang seperti dia, dan ahjumma, juga anak laki-laki gendut tadi. Huh.

“Aku akan membenarkan bannernya!” serunya.

“Tidak perlu. Aku akan melaporkan kalian ke polisi. Mendorongku hingga jatuh dan menyobek banner oppa! Tch!” seruku, tidak ambil pusing.

***

Aku mengayuh sepedaku menahan luapan marah. Aku lupa aku sudah 3 minggu putus dari Jae Son. Tapi kenapa tadi aku sempat mendatangi rumahnya untuk berangkat bersama ke sekolah. Neo, Ham Eun Jung, mietchesseo? Neo, crazy girl! Kyaaaak! Aku mengumpat diri sendiri ketika melihat banner oppa sudah kembali utuh. Tanpa sadar aku tersenyum. Oppa yang kemarin menepati janji?

***

“Kenapa kamu masih mendatangi rumah Jae Son?” tanya Seo Hyun Unnie.

“Mianhamnida, sunbae. Kami baru putus tiga minggu. Saya belum sepenuhnya terbiasa.” Kataku sambil menunduk meskipun aku sepenuhnya geram, ingin memukulnya. Bagaimana bisa dia mencuri Jae Son?

“Kalau begitu jangan diulang lagi. Jae Son sudah bersamaku sekarang.” Katanya sambil berdiri.

“Unnie, kamu punya banyak teman lelaki mengantri untukmu, kenapa kamu mengambil lelaki yang sudah diambil oleh gadis lain?” tanyaku.

“Siapa yang sudah mengambil siapa? Kamu mengambilku?” tiba-tiba Jae Son muncul dari balik pohon. Dia berjalan menghampiri Seo Hyun Unnie, dan memeluknya.

“Bu… bukankah… semua orang bilang begitu? Lelaki yang berpacaran itu sudah diambil sama pacarnya?” gumamku.

“Aku tidak pernah merasa berpacaran denganmu, Ham Eun Jung. Aku hanya berada di sekelilingmu, ke sana kemari. Tapi aku tidak pernah merasa berpacaran denganmu,” katanya sambil memandang Seo Hyun Unnie, “Sunbae, ayo…” aku melihat Jae Son dan Seo Hyun Unnie berjalan menjauh ketika sebuah bola baseball menghantam kepalaku.

“Mian. Tolong lemparkan bolanya!” seorang chingu dari lapangan baseball berteriak memintaku melemparkan bola itu. Ya, aku melemparnya. Melempar ke arah Jae Son dan Seo Hyun Unnie. Tetapi sayangnya bola itu menghantam kaca. Ahhh~ wae dooo~~~

***

“Kamu lagi! Hyaa… neo, Ham Eun Jung, apa lagi yang kamu lakukan? Aigooo~~,” sonsaengnim memarahiku di ruang guru sementara aku duduk bersimpuh dengan kedua tangan di atas.

“Ahh, sonsaengnim, saya pegal-pegal,” rengekku memasang wajah memelas.

“Terserah!” seru sonsaengnim sambil berlalu ketika aku melihat Seo Hyun Unnie sedang dipuji-puji oleh guru kelasnya. “Apa yang keren dari gadis itu? huh!” gumamku.

Pegal sekali rasanya tangan ini. Aigooo~~ aku pingin pipis juga. Ottohkae??

“Sonsaengnim, saya mau ke kamar mandi yaaa. Saya sudah tidak tahaaaan.” Aku berbalik menuju pintu ketika aku menabrak anak laki-laki gendut. “Aww. Sakit..!” erangku sambil menggosok-gosok dahiku. Tapi tiba-tiba aku merasa ada cairan mengalir di kakiku, aku… mengompol? Hoaaah, andweeyooo~ tidak di sini! Tidak sekarang!

Aku melirik ke dalam ruang guru. Semua orang melihatku. Semua. Tidak terkecuali oppa itu. Oppa? Oppa itu? Oppa yang kemarin? Dia melihatku mengompol! Ah andweee~~ Ottohkachi…??

***

-TO BE CONTINUED-

Sabtu, 30 April 2011

Loving You

Diposting oleh ANALOLIPOPPOP di 05.19 0 komentar
Part 2. Nae maemeul ajikdo gedeneun mollayo...

"So, Doo Joon ah, what are you doing during this semester?" I ask the boy who is sitting in front of me while I drinking my soda, "I heard you have a training?" I finish my burger. Today's exam makes me feel like a beggar, so hungry. Hahah.
"I have been eliminated once, and now I'll make a debut." He says while smirking to me. I see him, I can't believe it.
"Hoah, finally, you did it!" I punch his shoulder.
"Hahahah, of course, I am so beast yo mameen!" He says so loudly right in my left ear when I hear a man's voice scream out loud behind me.
"JUNG SANG SUN!" I jump a second from my desk. I'm sure all people in the canteen glare to me. I turn my head to see this bastard who dare call my name here without any shame.
"Hya, you, Kyu! Kyaaaa~ what are you doing?" this boy's name is Kyu Hyun, my classmate for nearly three years.
"Hyaaaa... nooo... what you two doing hah? You two will do such thing like... popo? hyaaak~~" he sits beside me, "so disgusting..."
"Mwoya? What you mean? ahh jinjjaa~~ you should play the starcraft so this world will be in peace..." I says with open eyed.
"Hahah, so now you want to tell me that you have a namchin *boyfriendd*?" He says while eating his tteobokki.
"Ahh, jeongmal~~ waeyo? If he is my namchin?" I appoint Doo Joon, "it's not your business, babo!"
"Well, I guess..., so I can live peacefully without you around me." Kyu says with the expression face f.i.n.a.l.l.y makes me so angry.
"Well, I guess..., you don't need me anymore to do your homework anymore." I say.
"Ehmmm...." Kyu murmurs.
Doo Joon looks at me and Kyu, and doesn't even interrupt us. But, I realize now he doesn't even pay attention with our business, he is absolutely adsorbed with something else. I automatically find what he is looking at. Waw, it's the girl with a skinny body, beautiful face, and long black hair.
"Hyaa, Doo Joon ahh, why you see Ha Neul like that?" when I ask this, Kyu is already find this figure girl, "hyaa, you too, why you even care?" There's no respond from Kyu.
Ahh jinjjaa~~ what happen with these boys?
"She's my ex yeochin *girlfriend*...," These two boys say the same thing in the same time. Mwooyaaaaa?? I scream inside my mind. Molduandweee~~
Doo Joon and Kyu Hyun see each other. "Jinjja yo?" Kyu asks first.
"Ne." Doo Joon nods.
"Ahh, saesang e..." I can't believe it. My two close friends have the same ex yeochin. And this girl name is Park Ha Neul, the most beautiful first grade hobae.. ottohkae?


Home. 07.00 p.m.
"Ottohkae, Soo ahh~~?"
"Mwo?" my close friend answers my call from nowhere.
"Doo Joon and Kyu have the same ex yeochin." I say desperately.
"Then?" she asks, "what is your business?"
"Uhmm... mollaa~~ but I can't even say anything to them." I say, confuse to myself.
"Then?" she asks again.
"Ahh, Soo ahh what are you doing now?" I asks.
"Wae wae?"
"You seem so busy." I say.
"Ahh, aniya.. I just make a meal for Umin oppa." she says while laughing.
"Ahh, so you are busy. Ne, I hang the phone now." I say while taking my coat. I better walk to get some fresh air.

"Where will you go, Sunnie ahh?" my mom scared me.
"Ahh, umma, huff... take a walk." I open the door, "Don't lock it umma."
"Araseo..." umma is walking to the kitchen. I close the door.
Where should I go? Why this little girl, Ha Neul, bother me so much. Why must my two close friends be her ex namchin? What kind of world it is.
When I decide to eat burger in the Jung Soo ahjussi's burger shop, I see a girl with a man talking beside the bridge *the bridge is in the right side of the shop* and I'm sure one hundred percent that girl is Ha Neul. Ottohkae? who's the man?I walk to see him clearly. Mwooyaaaaa? I shock with what I see right now. That boy is Kyu. What are they doing? Why my heart is so sick watch it?

From Jung Soo ahjussi's burger shop the A Pink's song is played.
Ireoji mayo baby geudeuneun mollayo... nae mameul ajikdo geudeuneun mollayo...
*Don't do this baby you don't know... you don't know my heart...*
-CUT-

Cast:
Sang Sun as herself.
Doo Joon as himself.
Kyu Hyun as himself.
Gia as Park Hae Soo.
Sungmin as himself, Hae Soo's namchin.
Park Ha Neul as herself, ex yeochin of Doo Joon and Kyu *it's a fact*

Jumat, 11 Maret 2011

POPULAR CULTURE

Diposting oleh ANALOLIPOPPOP di 08.58 0 komentar

What is popular culture? Make it simple, popular culture is everything, like the events, people, mode, and trends that capture the public imagination. It will also help to describe the current cultural trend, and the cultural past trend. In every age there will be always a trend that can be determined as popular culture. For instance, music, clothes, food, and television program have changed from a decade to another decade. Now, we are watching “Glee” – an America television serial – and maybe some years ago our aunts were watching “Friends”.

Popular culture itself is about satisfaction. It will satisfy people by ensuring they get what they want whether they need it or not. It’s just like what kind of clothes that people are wearing, the food people eat, and of course the television programs which inform and entertain people. Besides, there are some icons can be said as popular culture such as Mickey Mouse, Donald Duck, Santa Clause, and many more. All people around the world know them well.

The purposes of popular culture are to find out what we want, what we think and feel, and what we believe. Popular culture is more about what we want not what we need. It happens because need is the biological matter and popular culture more about the image of our desire. Popular culture’s products reflect the audience values and beliefs. Popular culture is not only reflecting our minds and hearts but also manipulating them. It has already influenced us by looking how we dress, what we eat, and even how we think about ourselves.

How could popular culture influence us?

The expansion of mass media and technology help the expansion of popular culture in brainwashing people’s mind so that we’ll believe what masses believe by having the goal of making money or commercial. Because we are passive consumers, we can’t escape from popular culture expansion, and the only thing we can do is buying or not buying, watching or not watching, eating or not eating. That’s why popular culture influences us and somehow shapes people’s identity.

Popular culture is already about history, news, and about what we were as about what we are. If we think back to a popular fashion trend, a music group, or an event that had been great news in our lifetime, than we’ll see how much the impact of popular culture. Popular culture is around us and influences us already. And maybe without pop culture, we wouldn’t be able to sing the song “Happy Birthday”, watch “Donald Duck” cartoon, eat “Hamburger”, or any of the other innovations that people take for granted.

REFERENCES:

http://www.articlesbase.com/login?r=abc

Nachar, Jack and Lause, Kevin. 1992. Popular Culture: Introductory Text. Ohio: Bowling Green State University Popular Press.

Selasa, 08 Maret 2011

Move On !

Diposting oleh ANALOLIPOPPOP di 05.13 0 komentar


Hidup itu bisa berarti banyak hal...tergantung siapa yang memaknainya.
Bagi seorang penyair, mungkin hidup itu puisi yang mendayu-dayu, yang penuh kata-kata indah atau bahkan kata-kata yang menjijikan. Tergantung lagi, seperti apa penyairnya, siapa penyairnya, siapa gurunya, apa yang dipelajarinya, apa alirannya.
Seperti itu pula lah hidup....berawal dari kompetisi beribu sperma kita terlahir di dunia,polos seperti kertas, dan orangtua lah yang kemudian membentuk kita, mau dijadikan seperti apa kita, mau jadi jewish, muslim, christian, dan sebagainya, dan sebagainya.
Kita tidak memilih dan meminta terlahir dari seorang ibu yang begini yang begitu. Seorang pendatang baru layaknya seorang artis *korean-pop idol khususnya* perlu ditraining terlebih dulu sebelum debut. Sama halnya dengan kita, yang terlahir sebagai new comers harus bersedia didikte oleh dunia, lingkungan, dan keadaan. Pada saat itu kita hanya melihat, karena otak dan jalan pikiran kita belum berkembang sepenuhnya. Kita melihat apa yang terjadi di lingkungan, apa yang orang tua kita lakukan, merekamnya, dan menyimpannya di otak kita. Seperti kaset yang bisa diputar berulang-ulang, kita bisa memutarnya terus menerus, mengingat dan merasai meski itu sudah berada di masa past,lampau dan sudah tidak layak untuk dijamah.Tetapi kenapa kita masih harus mengulangnya?
Karena kita manusia. Itu jawabannya. Manusia yang hidup sendiri, kesepian. Setiap manusia itu datang seorang-orang tidak bergerombolan seperti pasar malam, dan akan pulang sendirian pula. Dan hidup ini panggung sandiwara. Kita selalu dikejar kekhawatiran, ketakutan, dan kesendirian. Itulah kita. Jangan menyangkal. Itulah kita.
Tapi, ketika umurmu bertambah, dan pola pikirmu berubah, tidakkah kita semua ingin mengobati diri?
Kita sudah bisa berfikir, memandang dari berbagai macam sudut. Hidup itu interdisciplinary, tidak hanya bisa dilihat dari satu perspektif. Boleh, suatu saat kamu menyumpahi hidupmu, yang mungkin tidak seindah yang nampak dari kehidupan orang lain. Tapi pandanglah lagi hidupmu, mungkin memang tidak sebahagia kehidupan si A, si B, atau si C, tapi itulah hidupmu yang akan membentukmu, dan membantumu menjadi dirimu sendiri, mencetakmu, dan membuatmu menentukan mau jadi apa kamu. Akankah bertahan dalam kondisi mengerikan, atau berlari berjuang merubahnya. Semua itu hidupmu lah yang mengajarimu, mengembangkan daya fikirmu.

Semua ini berawal dari obrolan ringan di kampus dengan teman-teman, membuatku kembali mengusik hal-hal yang sudah lama tidak aku jamah. Kami mengobrol ringan tentang ketakutan masa depan, tuntutan orangtua, dan sistem yang terus membelenggu setiap individu dalam masyarakat. Kami, 4 orang dengan latar belakang berbeda, pesrpektif berbeda, tujuan dan orientasi hidup yang berbeda saling mendengarkan satu sama lain.Sesekali saya tercengang, termangu, tertawa, dan berfikir.

Sudah selayaknya kami berfikir ke sana, jauh ke sana, ke tujuan-tujuan hidup. Saya juga punya tujuan hidup, meski masih abu-abu dan gelap, tapi saya punya.
Teman saya, dia bilang dia sudah benar-benar sakit dan tidak bisa diobati. Dulu, duluuuuuuu sekali, saya juga sakit, dan sepertinya tidak bisa diobati, tapi apa? sekarang saya bisa sehat. Memang, masalah orang itu tidak bisa disamakan kadarnya, tetapi tidak ada masalah yang tidak ada penyelesaiannya. Ketika, dulu, ketakutan, dan segala hal yang saya anggap derita datang menghampiri, ingin rasanya berlari dari dunia, dunia yang bukan untukku. Tapi kemudian, saya mampu berfikir, berfikir untuk menjadi saya.

Saya mulai berdamai pada diri sendiri, sekronis apa pun sakit saya, saya bertekad berdamai. Mulai menikmati hidup ini, ketika saya ingin tertawa, maka tertawalah saya. Ketika saya ingin makan, maka makanlah saya. Seiring dengan waktu universe mengikuti ritme kehidupan kita yang mampu berdamai dengannya. Universe akan membalas semua usaha kita. Dia adalah teman terbaik setiap umat manusia.

Kemudian saya mulai menetapkan diri, menemukan pedoman, agar tidak goyah dan terus labil. Pedoman itu yang menguatkan, dan menuntun langkah. Pedoman itulah yang mengantarkan kita pada jiwa-jiwa kuat yang mampu bertahan. Jangan sekedar mencari pembenaran, temukan pula pembuktian, kuatkan hati yang rapuh, dan berjuang membentuknya menjadi akar-akar yang kuat membangun otot-otot batin yang teguh. Sekali lagi belajarlah dari universe, dia akan menjadi guru yang baik.

Dan ingat, jangan terus-menerus memutar kaset masa lampau kita. Masa yang lampau biarlah terkunci rapat di dalam pita kaset kusut yang sudah tidak layak diputar. Biarkan mereka di sana menangisi masa-masa itu sendiri, tarik diri kita, menjauh, dan jangan mendekati mereka lagi. Mereka hanya akan menyesatkan. Why should we? Because we are precious. KITA BERHARGA. Jangan hanya karena kita ditakdirkan terlahir dari seorang ibu yang bla bla bla bla, seorang bapak yang bla bla bla bla, yang menuntut kita harus bla bla bla bla..., lalu kita menjadi mati dalam kehidupan ini. Kamu hidup untuk kamu, bukan untuk mereka. Sukses bukan untuk mereka, tapi untuk diri sendiri. Dan ketika saya mencapai titik ini, saya semakin berdamai dengan keadaan, membentuk universe saya sendiri, dan berjuang mewujudkan universe saya itu...


Semakin orang tua mengharapkan untuk..., kita harus semakin yakin kita adalah....
Semakin orang tua melukai kita..., kita harus yakin mereka sayang kita, dan pandang lah mereka dari berbagai macam sudut, peran, dan sistem yang terus membelenggu..., mereka juga adalah hasil.., tak ubahnya kita,, bayangkan diri kita sendiri...

hidup ini adalah game, jika kita tidak bisa berpikir seperti itu, mungkin kita tidak bisa melewati hari-hari,,,
tetapi hidup ini adalah game yang tidak bisa dengan mudah diulang setelah game over...







hidup ini hidupmu,
hidup ini hidupmu,







jika dunia sepertinya bukan untukmu,
maka bentuklah satu untuk dirimu sendiri...




Move On!




JUST...

Diposting oleh ANALOLIPOPPOP di 04.10 0 komentar

I feel so bad recently. I can't look clearly of myself.
I just feel I'm not in the right path. It seems like I lost of myself.
I can't hold on anymore. But I must.

I don't want to be lonely. Sad. Upset. Pathetic.
I do want to be a great person. I keep questioning, when? When will it happen?
I don't need to rely on someone else. I just need myself. Grab all my power, and puff...

Just for a day, I do really hope can do the magic.
Just for a day, I do really hope can escape.
Just for a day, I do really hope can fly away.

Fly high...
 

kerokero-bosu! Copyright © 2009 Baby Shop is Designed by Ipietoon Sponsored by Emocutez